Jumat, 02 Februari 2018

Praktis Tapi Dibenci: Angkot

Sejak masuk SMP tahun 2008, saya erat dengan mikrolet atau yang sering disebut angkot. Hell man, dulu pernah bela-belain ngangkot dari rumah di Cipondoh ke Plaza BSD demi nyari Converse diskonan di Sport Warehouse. Budaya ngangkot ini bertahan sampai kelas 2 SMA karena Ayah beli motor Mio yang boleh dipakai untuk ke sekolah. Lulus SMA, kuliah di Bandung dan belum punya motor, walhasil ya kembali ngangkot ke mana-mana walaupun tidak pernah ke mana-mana ngangkot karena kalau mau ke mana-mana ada kawan yang bisa ditebengin ke mana-mana. Setelah dua tahun nirkendaraan-pribadi, awal tahun 2016 Ayah kembali memberi motor Mio sebagai pelicin motivasi biar rajin latihan karena waktu itu tidak disangka-sangka bisa diajak latihan Pelatda PON. Cerita saya dan angkot berakhir di situ karena sekarang punya kendaraan pribadi dan secara langsung berkontribusi terhadap kemacetan Kota Bandung, Nuhun Kang Emil.

Momentum saya diberi kendaraan pribadi ternyata secara coincidence bertepatan dengan lahirnya sentimen anti-angkot, atau ya menurutku begitu, yang muncul di masyarakat Kota Bandung, apalagi dengan munculnya ojek online (ojol) yang praktis dan terkesan futuristik (atau orang Indonesia aja yang kuno). Angkot mulai sepi penumpang, dan hal ini pernah diutarakan langsung sama supir angkot sendiri saat saya ngangkot dari rumah ke Terminal Leuwipanjang. Supir angkot yang saya tidak tahu namanya (dan malas nanya) bilang bahwa tendensinya untuk ngetem akan semakin sering karena penumpang mulai sepi, penumpang yang sepi berarti pendapatan menurun, dan menurut logikanya untuk menambah jumlah pendapatannya, ia harus sering ngetem agar penumpang banyak terjaring.

Angkot sebenarnya masih menjadi transportasi umum yang praktis dan masuk akal digunakan di Jabodetabek dan Bandung karena jalan di kota-kota tersebut relatif kecil dibanding di kota metropolitan negara lain. Ukurannya yang relatif kecil dibanding transportasi umum lain membuat mereka bisa bergerak leluasa di jalanan metropolitan. Pengoperasiannya pun tidak sulit karena pada dasarnya, angkot adalah mobil golongan I yang dirombak sedemikian rupa menjadi transportasi umum. Angkot juga tidak membutuhkan platform khusus untuk menaik-turunkan penumpang karena pada dasarnya mereka adalah mobil pada umumnya. Dibanding dengan kereta yang membutuhkan stasiun atau bus transjakarta yang membutuhkan shelter khusus.

Lantas mengapa angkot begitu dibenci dan ketiadaannya diamini oleh pengguna jalan lainnya? Faktanya, waktu tempuh dari Kiaracondong ke Jatinangor lebih cepat ketika para supir angkot mogok kerja dibanding ketika angkot-angkot beroperasi. Untuk mengetahui hal itu, coba tengok Kota Bogor yang memiliki populasi angkot lebih banyak dibanding manusianya. Jumlah Angkot di Jabodetabek sendiri menurut Katadata pada tahun 2015 mencapai 24 ribu unit dan diharapkan berkurang. Angkot sudah terlalu banyak dan membanjiri kota tanpa adanya peraturan yang tegas akan pembatasan jumlahnya. Pemerintah hanya bisa mengontrol status angkot-angkot tersebut lewat Dinas Perhubungan yang memperbolehkan atau tidaknya sebuah angkot beroperasi. Angkot sendiri dimiliki oleh pengusaha-pengusaha swasta atau pribadi dan sama sekali bukan milik pemerintah. Dengan begitu, saya dan masyarakat umum pun apabila memiliki izin usaha dan uang yang cukup bisa menjalankan usaha trayek angkot sesuai ketentuan Dishub tanpa adanya peraturan tentang jumlah unit yang jelas. Mungkin ini yang disebut Free Market. Hal tersebut membuat jumlah angkot begitu banyak dan tidak terkontrol.

Selain tidak bisa dikontrol jumlahnya, hal yang paling sering dikeluhkan oleh pengguna jalan lain termasuk saya adalah cara mengemudi para oknum supir angkot yang tidak beretika. Kadang membahayakan pengguna jalan lain, penumpang, dan dirinya sendiri. Tendensi untuk ugal-ugalan ini juga berakar dari perebutan penumpang antar angkot. Dengan mendahului angkot lainnya, mereka dapat merebut calon penumpang, tentu dengan berbagai resiko yang ditanggung oleh sang supir. Selain itu, angkot sendiri memiliki tendensi untuk menunggu penumpang dalam jangka waktu yang lama, sangat lama, dan kadang menutupi ruas jalan. Bisa dilihat di depan TangCity Mall di mana angkot memakan hampir setengah ruas Jalan Jenderal Sudirman dan mengakibatkan kemacetan yang sebenarnya bisa ditangani dengan mudah.

Supir angkot sendiri diharuskan memiliki SIM A Umum, Kartu Tanda Anggota, Kartu Pengawasan, serta seragam yang jelas. Pada kenyataannya, banyak supir angkot yang tidak memiliki salah satu bahkan semua kelengkapan tersebut. Dari pengalaman pribadi saya sendiri, beberapa supir angkot bahkan belum berumur 17 tahun apalagi memiliki SIM. Banyak juga terdapat supir yang tidak terdaftar di manapun, bisa disebut supir tembak. Supir tembak sendiri menggunakan angkot milik orang lain meskipun dirinya tidak terdaftar dalam angkot tersebut, mungkin mereka menggantikan kawannya yang berhalangan untuk bekerja, mari berpikir positif. Akan tetapi, dengan adanya supir yang tidak memiliki izin dan segala macamnya, akan lebih sulit untuk dikontrol apabila terjadi tindak kriminalitas dan pelanggaran lain. 

Bicara soal kriminalitas, meskipun tidak ada data yang up-to-date tetapi pada akhir 2012 sendiri dilansir dari Republika.co.id, terdapat 24 kejadian yang melibatkan angkot di Jakarta dan berita mengenai tindak kriminal di angkot dapat ditemui sehari-hari di koran-koran lokal kota. Selain kriminalitas, angkot juga relatif tidak nyaman dibanding transportasi umu lainnya. Supir kadang memaksakan kehendak dengan menempatkan penumpang layaknya barang, berdesak-desakan dan bersempit-sempitan seperti ikan asin dalam peti. Kadang, satu unit angkot dapat menampung 15 penumpang, bisa juga lebih! Belum lagi unit yang sudah tidak layak tetapi masih dipertahankan untuk beroperasi. Saya pernah naik angkot yang hampir tidak memiliki suspensi yang layak, yang jelas dengan jalan di Indonesia yang banyak bergelombang, penumpang tidak merasakan pengalaman yang baik dalam angkot tersebut.

Meskipun banyak hal negatif yang dimiliki angkot, mereka tetap menjadi transportasi paling efektif di jalanan kota. Untuk berbagai kalangan juga angkot tetap menjadi andalan untuk berpergian dari titik A ke titik B. Angkot juga murah meskipun harga ongkos yang ditetapkan oleh sang supir selalu menjadi tanda tanya besar penumpang. Kemampuan analisa supir angkot dalam menentukan tarif patut diacungi jempol dan tidak bisa ditandingi siapapun. Angkot juga menjangkau hampir setiap sudut kota karena kepraktisannya, hal yang belum bisa ditandingi oleh transportasi umum lain seperti bis kota apalagi kereta. Angkot tetap dibutuhkan, meskipun dibenci. Beberapa bulan lalu saja ketika supir angkot mogok kerja, pemerintah harus mengeluarkan usaha lebih untuk menggantikan peran angkot, bukti bahwa angkot tetap memiliki permintaan meskipun semakin mengecil.

Menurut saya, angkot merupakan moda transportasi yang ketinggalan zaman. Ketika bangsa lain sudah memiliki moda transportasi yang lebih maju dan lebih aman, kita terlena dengan adanya angkot. Kita tidak akan menemukan semacam Angkot di Singapura apalagi di New York. Pemerintah harus segera mencari solusi permasalahan ini. Ketidaknyamanan angkot sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Tanpa adanya transportasi umum yang nyaman dan sepraktis angkot, masyarakat (dan saya) akan tetap menggunakan kendaraan pribadi yang menyumbang polusi dan kemacetan secara langsung.

Solusi yang paling praktis sebenarnya adalah akuisisi angkot oleh pemerintah. Jadikan angkot sebagai transportasi umum milik pemerintah, dengan begitu jumlah dan kualitasnya bisa dikontrol. Tinggal bagaimana pemerintah bisa bernegosiasi dengan pengusaha-pengusaha angkot. Solusi yang lebih radikal adalah dengan cara mengganti angkot dengan moda transportasi yang lebih layak dan modern. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana cara memperbaiki moda transportasi umum yang ada tanpa mengorbankan supir-supir angkot yang kebanyakan tidak memiliki skill lain karena pada dasarnya merekapun butuh pendapatan yang layak dan kehidupan yang sejahtera.

Selasa, 09 Januari 2018

Saya Memilih Golput Karena Saya Punya Hak Untuk Memilih

Tulisan ini tidak mengajak anda untuk ikut Golongan Putih (Golput), tulisan ini hanya berisi alasan kenapa saya memilih Golput pada Pilkada 2018. Saya warga Kota Bandung, KTP saya Bandung, dan saya punya hak memilih gubernur baru Jawa Barat pada bulan Juni nanti, tetapi saya memilih untuk tidak menggunakan hak saya nanti.

Jawa Barat memiliki luas wilayah kedua terbesar di Pulau Jawa setelah Jawa Timur, dengan penduduk sebanyak 46,4 juta penduduk di tahun 2017 dan pada pilkada edisi sebelumnya, di tahun 2013, sebanyak 32,5 juta orang memiliki hak pilih. Jumlah tersebut belum termasuk saya yang baru memiliki KTP Jawa Barat pada tahun 2016. Hampir dipastikan jumlah tersebut akan bertambah seiring bertambahnya penduduk Jawa Barat yang pada tahun 2013 berjumlah 46.2 juta penduduk.

Jawa Barat juga salah satu daerah yang memiliki potensi ekonomi besar dan memiliki angka pertumbuhan ekonomi lebh baik dibanding angka nasional, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat berada di angka 5,2%-5,6% pada triwulan III 2017 sementara angka nasional ada pada 5,06%. Jawa Barat juga berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar 14,33%. Letak geografis Jawa Barat sangat strategis yaitu dekat dengan Ibukota dengan infrastruktur yang terbilang cukup memadai, bahkan akan memiliki bandara internasional baru yang beroperasi 2018 dan diharapkan akan mendongkrak investasi serta pengunjung ke Jawa Barat. Jawa Barat memang sangat menggiurkan bagi siapa saja yang ingin naik menjadi penguasa.

Sejauh ini, ada empat pasangan cagub-cawagub yang siap dipilih pada pilkada mendatang dan keempatnya diusung oleh partai atau koalisi partai yang berbeda (of course, doh), dan saya belum siap memilih pemimpin baru yang di-backing oleh partai politik. Pada Pemilu 2014, saya memilih ikut golput, karena saya tahu output dari berpolitik adalah mendapatkan kekuasaan, dan dari kekuasaan tersebut, pihak yang menduduki kursi kekuasaan akan mengatur sedemikian rupa peraturan dan undang-undang yang akan memberi keuntungan atau melancarkan kepentingan pihak mereka, dan dengan alasan yang sama, saya juga akan golput pada Pilkada 2018.

Ekonomi Jawa Barat beserta sumber dayanya sangat potensial, dari situ pasti ada pihak yang tergiur dengan kekayaan Jawa Barat, muncul kepentingan-kepentingan berbagai pihak untuk mengeksploitasi besarnya potensi di Jawa Barat. Dengan menjadi penguasa, jalan untuk mengeruk kekayaan di provinsi tersebut akan menjadi lebih mudah. Pihak mana lagi yang akan mendapatkan keuntungan apabila pemimpin baru terpilih kalau bukan dari partai pengusungnya? Apalagi biaya kampanye yang dikeluarkan sangat besar, bagaimanapun modal harus balik bahkan harus untung. Dari situ muncul berbagai cara untuk memuluskan jalan memuaskan hasrat kepentingan, peraturan dan undang-undang sesungguhnya dibuat bukan demi rakyat tetapi demi hasrat kepentingan fraksi yang mengeluarkan peraturan tersebut, berbagai perizinan yang dinilai merusak alam bahkan merusak kepentingan rakyat dipermudah demi memberi makan kepentingan partai pengusung. Saya bisa bilang bahwa semua partai politik sama saja karena pada teori dan kenyataannya, output dari kegiatan politik adalah memuluskan berbagai kepentingan. Pemimpin yang baru pada akhirnya hanya menjadi perpanjangan tangan partai pengusungnya saja.

Yang paling saya tidak suka dari so-called pesta demokrasi di Indonesia adalah cara-cara yang ditempuh partai-partai politik demi meraih kekuasaan. Rakyat dipecahbelah menggunakan berbagai narasi yang sistematis untuk menjatuhkan calon-calon yang berseberangan. Dosa-dosa calon pemimpin yang diusung oleh partai politik yang berseberangan akan dibuat, disusun, dan dipublikasikan sedemikian rupa sehingga rakyat manut-manut saja. Suasana seperti ini tidak akan hilang setelah pemilihan selesai dan pemimpin baru terpilih, berbagai cara untuk menghancurkan pemimpin baru tersebut akan terus dilakukan sampai pemilihan selanjutnya. Rakyat telanjur terpecah, muncul kelompok-kelompok yang akan menolak kelompok-kelompok lain dalam berbagai aspek sehari-hari. Fokus dari sebuah kampanye seharusnya bukan mengekspose kejelekan lawan melainkan mempromosikan apa saja yang bisa ditawarkan kepada rakyat.

Rakyat Indonesia tidak bodoh, semua tahu tentang adanya berbagai kepentingan dibalik pencalonan kepala daerah atau kepala negara, tetapi rakyat hanya pasrah memilih pilihan yang dirasa less-evil karena tidak ada pilihan lain.

Apapun pilihan yang saya pilih merupakan hak saya sampai disusunnya rancangan HAM baru di mana golput bukan merupakan hak manusia. Sebelum hal itu terjadi, saya akan tetap golput apabila pilihan yang diberikan tidak cocok dengan hati saya. Akan tetapi, saya tidak menyuruh anda untuk ikut bersama saya. Saya percaya semua orang bebas menentukan pilihannya sendiri asalkan tidak mengganggu hak orang lain. Mau anda memilih atau tidak juga tidak akan berdampak besar kepada kehidupan sebagian besar masyarakat lain, karena pada akhirnya siapapun yang berkuasa akan tetap sujud di hadapan partai politik, dan kekuasaan mereka akan tetap digunakan demi kepentingan partai.

Pesan saya kepada KPUD Jawa Barat, baiknya tidak usah sediakan surat suara bagi orang seperti saya, pasti jumlahnya banyak. Jumlah pemakaian kertas dapat dikurangi, ongkos percetakan dan distribusi akan berkurang, dan biaya untuk Pilkada dapat dikurangi, dengan berkurangnya dana untuk Pilkada, dana yang dikorup oleh berbagai pihak juga akan berkurang, kan?

Sabtu, 07 Oktober 2017

Presiden Tidak Perlu Dipuji, Tapi Harus Diserang

Sebelum lanjut membaca tulisan ini lebih jauh, mari kita samakan dulu persepsi. Tugas wajib pemimpin negara adalah mensejahterakan rakyatnya dan bangsanya, ingat ini adalah tugas, dan tugas harus dikerjakan dan diselesaikan tepat waktu. Apabila gagal diselesaikan maka pemimpin tersebut terbilang gagal dan harus dievaluasi, tugas masyarakat lah yang mengevaluasi kerja pemimpin tersebut. Apabila tugas tersebut dapat diselesaikan maka kewajibannya sebagai pemimpin telah terpenuhi, dan kewajiban merupakan keharusan, tidak ada reward untuk seseorang yang telah melaksanakan kewajibannya.

Saya tahu tugas menjadi pemimpin sangatlah berat. Dalam agama yang saya anut, dosa besar bagi pemimpin apabila salah satu rakyatnya saja kelaparan, bayangkan bagaimana beratnya memimpin lebih dari 260 juta rakyat yang menurut Badan Pusat Statistik, 10,64% tergolong miskin pada tahun 2017, betapa berat pertanggungjawaban pemimpin kita kelak di akhirat nanti.

Apabila anda tidak setuju dengan dua paragraf di atas, ada baiknya anda tidak lanjut membaca tulisan ini karena perspektif kita sudah berbeda. Akan sulit bagi anda untuk mencerna tulisan saya.

Sebagai rakyat, seharusnya kita terus mengontrol kerja pemimpin-pemimpin kita. Selain mengontrol, kita juga harus menunjang dan melaksanakan program-program kerja yang dicanangkan oleh pemimpin-pemimpin kita. Tidak ada pemimpin yang berhasil tanpa rakyatnya yang aktif mendukung kerja pemimpin tersebut.

Sebaliknya, pemimpin seharusnya mendukung aktifitas kehidupan rakyatnya. Roda ekonomi tidak akan berputar apabila sektor-sektor pendukung ekonomi tersebut tidak menunjang. Pemimpin hanya cukup menunjang sektor-sektor pendukung tersebut. Misalnya, infrastruktur dan pra-sarana, jalan-jalan yang baik akan menunjang distribusi yang baik, pemerintah hanya cukup membuat jalan yang baik dan biarkan rakyatnya menggunakan jalan tersebut untuk kepentingan ekonomis. Infrastruktur yang baik akan menstimulasi rakyat untuk bergerak menciptakan bisnis-bisnis baru dan lapangan-lapangan pekerjaan baru, dengan begitu semua orang dapat memiliki pekerjaan dan ekonomi kerakyatan akan berjalan, negara dapat penghasilan yang cukup dan dapat digunakan untuk membuat sekolah-sekolah dan rumah sakit untuk kembali menunjang aktifitas rakyatnya.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat juga harus berpihak pada rakyat. Permudah izin usaha, cabut subsidi tidak masalah asalkan jaminan kesehatan dan pendidikan selalu tersedia. Pajak jangan memberatkan pengusaha kecil, dan uang pajak harus digunakan untuk kebaikan rakyat.

Melihat premis-premis di atas, apakah presiden sekarang dapat dikatakan berhasil dalam melaksanakan kewajibannya?

Dengan masih tingginya angka kemiskinan, presiden belum dapat dikatakan berhasil melakukan tugasnya. Banyaknya orang yang menganggur atau sulit mendapatkan akses pekerjaan menjadi salah satu alasan mengapa masih banyak orang miskin di Indonesia, sebanyak 5,33% dari 131,55 juta angkatan kerja masih menganggur. Presiden juga gagal mempersatukan bangsa, terbukti dengan masih banyaknya konflik horizontal yang terjadi di penjuru negeri, pada periode 2015-2016 saja tercatat 1.568 kejadian yang berbau SARA, ini bukti bahwa rakyat masih belum teredukasi dengan baik dan belum sejahtera baik secara ekonomi maupun batin. 

Infrastruktur pun belum dikatakan memadai bagi rakyat. Masih banyak daerah-daerah yang masih belum bisa diakses, bahkan jalan-jalan yang ada pun masih tergolong buruk. Infrastruktur yang belum memadai akan menyulitkan distribusi logistik, kesulitan dalam pendistribusian tersebut akan berdampak pada tingginya harga-harga barang dan jasa, ditambah dengan sulitnya lapangan pekerjaan, rakyat akan tetap kesulitan dalam membeli dan mengakses kebutuhan-kebutuhan pokok. Memang sulit untuk mengurai masalah tersebut tanpa adanya infrastruktur yang menunjang kehidupan rakyat. Kesenjangan antar daerah juga tidak akan terselesaikan apabila pembangunan infrastruktur hanya terpusat di Indonesia bagian barat saja.

Masalah paling mendasar ada pada instansi-instansi pemerintahan yang masih menggelapkan uang negara. Presiden belum berhasil menyelesaikan masalah korupsi. Uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat malah masuk ke dalam kantong pribadi. Hal ini membuat rakyat semakin sengsara. 

Presiden tidak patut untuk dipuji. Presiden belum berhasil mensejahterakan rakyatnya. Rakyat tidak boleh terpesona dengan citra Presiden yang down to earth dan sederhana. Rakyat seharusnya terus menyerang presiden dengan kritik-kritik terhadap berbagai kebijakan yang presiden buat. Rakyat harus terus meminta Presiden untuk mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap rakyat. Tanpa adanya evaluasi dari rakyatnya, Presiden akan terus dibayangi dengan anggapan bahwa dirinya telah berhasil meskipun kenyataannya belum.

Meski begitu, banyak program-program yang nantinya diharapkan akan mensejahterakan rakyat khususnya dari sektor infrastruktur. Pembuatan jalan tol di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi diharapkan akan mempermudah distribusi barang dan membuka pekerjaan baru lewat mudahnya akses menuju kota-kota. Program Kartu Indonesia Sehat dapat mempermudah akses kesehatan bagi warga yang kurang mampu. Rakyat harus tetap mengawasi dan mengkritik kebijakan-kebijakan tersebut agar terus pada jalurnya. Rakyat juga harus tetap mendukung kinerja pemerintah untuk mensejahterakan rakyat. Serang pemerintah lewat kritik yang berisi dan membangun.

Keberhasilan pemerintah tidak boleh dipuji, karena itu merupakan kewajiban kepada rakyat. Tetapi kegagalan dari pemerintah harus terus diserang karena kewajiban rakyat lah untuk terus mengawasi kinerja pemerintah. Semoga Presiden dapat terus bekerja demi rakyat dan rakyat dapat sejahtera dan mendapatkan kehidupan yang layak karena pada UUD 1945 tercantum rakyat berhak mendapatkan kehidupan yang layak.


Senin, 21 Agustus 2017

Jalu's Coaching Diary: Walk Out Bukan Solusi

Atlet mana pun yang ingin menjadi terbaik dalam nomor olahraga yang ia mainkan harus memiliki mental yang kuat. Mental yang kuat meliputi attitude terhadap segala keganjilan dalam permainan. Atlet yang baik harus sadar bahwa permainan yang mereka mainkan memiliki unsur manusiawi di dalamnya, dan manusia tidak lepas dari kesalahan baik disengaja mau pun tidak. Wasit, ofisial pertandingan, tim lawan, supporter, sampai ballboy sekali pun merupakan manusia, dan merupakan bagian dari permainan. Atlet yang baik harus menyiapkan diri dari hal-hal yang akan terjadi dalam pertandingan, seburuk apa pun hal-hal tersebut.

Pada kaliber atlet nasional, mental adalah segala-galanya. Mental seorang atlet nasional adalah cerminan tidak langsung dari mental negara yang ia wakilkan, yang ia bawa nama baiknya. Apa yang atlet tersebut lakukan menjadi cerminan rakyat dari negara yang ia wakilkan tersebut. Apabila si atlet mudah menyerah dan mudah terintimidasi, maka secara tidak langsung menunjukkan bahwa rakyat negaranya mudah menyerah dan mudah terintimidasi.

Walkout dari sebuah pertandingan tentunya bukan jawaban dari sebuah tantangan. Sikap merasa dicurangi oleh perangkat pertandingan sebenarnya sah-sah saja, lagipula atlet juga manusia, tetapi menyiasati kecurangan tersebut seharusnya jadi motivasi atlet untuk memenangkan pertandingan. Bukankah lebih keren apabila seorang atlet dicurangi oleh perangkat pertandingan tetapi tetap berjuang untuk kemenangan? Apa lagi sampai bisa memenangkan pertandingan tersebut. Mental semacam inilah yang harusnya ditanamkan kepada atlet-atlet di dunia, khususnya Atlet Nasional Indonesia yang berlaga di ajang dunia. Kalah walkout karena merasa dicurangi bukanlah sesuatu yang terhormat, tidak ada kata terhormat bagi atlet yang menyerah. Apakah sepadan latihan bertahun-tahun hanya untuk walkout karena dicurangi perangkat pertandingan? Menurut saya tentu tidak, apalagi ketika satu tangan telah memegang medali emas yang diidamkan selama bertahun-tahun.

Memang ada rasa yang mengganjal apabila kita dicurangi oleh tim lawan atau perangkat pertandingan. Siapa pun yang menggeluti suatu disiplin olahraga dan pernah merasa dicurangi pasti merasakan. Apabila rasa yang mengganjal tersebut membuat seorang atlet ingin pergi dari pertandingan, maka ia tidak memiliki mental yang kuat, dan atlet yang tidak memiliki mental yang kuat seharusnya tidak pantas menjadi representasi sebuah negara di ajang internasional.

Biarlah lawan atau perangkat pertandingan bersikap curang. Atlet yang baik akan terus berjuang dan berusaha karena ia tahu arti dari sportifitas yang sesungguhnya. Mental keep fighting despite of everything harus ada dalam jiwa atlet mana pun. 

Mungkin inilah cerminan dari negara yang atlet tersebut wakilkan. Rakyatnya memang mudah menyerah, tidak ingin melawan keadaan, dan merasa bahwa kalah tanpa menyelesaikan pertarungan lebih terhormat dibanding kalah setelah bertarung habis-habisan. Atau mungkin ada yang salah dengan jiwa petarung atlet tersebut? Mungkin si pelatih hanya mengajarkan cara untuk menang dan tidak mengajarkan atletnya cara bertarung mati-matian dalam segala kondisi?

Kalah walkout adalah hal yang memalukan, lebih memalukan ketimbang dibantai habis-habisan oleh lawan. Kalah walkout adalah cara yang hina untuk menyelesaikan pertandingan. Memang sikap curang menodai asas sportifitas dalam suatu pertandingan, tetapi menyerah di tengah-tengah pertandingan karena merasa dicurangi menurut saya sudah merusak asas sportifitas.

Tulisan ini ditujukan kepada atlet atau pelatih mana pun yang pernah melakukan aksi walkout dalam segala level pertandingan.

Senin, 17 Juli 2017

Boikot Starbucks? Kenapa Tidak!

Setelah kabar Starbucks menyatakan sikap mendukung hak-hak kaum LGBT sampai di telinga orang-orang Indonesia, Anwar Abbas, pemimpin Muhammadiyah, mengajak kaum muslim Indonesia untuk berhenti jajan di Starbucks. Hashtag #BoikotStarbucks sempat ramai di media sosial dan seperti biasa, selalu menjadi polemik dan perdebatan dari berbagai sudut.

Sebenarnya dukungan Starbucks terhadap hak-hak kaum LGBT sudah lama dipublikasikan, bahkan dari tahun 2013, CEO Starbucks sudah mendukung pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat. Hanya saja, seperti biasa, Indonesia selalu ketinggalan dalam tren global. Isu-isu yang sudah 'in' di berbagai negara first world selalu direspon beberapa tahun setelah isu tersebut panas. positifnya, isu yang sudah dingin tersebut menjadi panas kembali dan media-media, bahkan media luar negeri, mendapatkan profit dari isu-isu tersebut.

Saya tidak peduli dengan hak-hak kaum LGBT. Saya menganggap mereka sebagai manusia biasa, dan mereka mempunya hak yang sama dengan saya, dan harus mengikuti peraturan yang sama dengan saya. Apabila antar mereka ingin menikah, silahkan, tetapi peraturan di Undang-Undang Perkawinan No, 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa perkawinan merupakan ikatan antar wanita dan pria. Jika kawan-kawan penganut paham LGBT ingin menikah, jangan menikah di Indonesia.

Mendukung perkawinan sesama jenis merupakan tren marketing di lima tahun terakhir. Microsoft, Nike, Google, Levi Strauss, Apple, dan Facebook adalah produk-produk yang mendukung hak-hak kaum LGBT. Mengapa mereka mendukung hak-hak kaum LGBT? karena konsumen mereka adalah pemuda-pemuda yang berpikiran progresif dan liberal. Pemuda yang progressive thinking cenderung memiliki pendidikan yang baik, dan diasosiasikan dengan kantong yang tebal juga. Masuk akal apabila mereka menyatakan dukungan terhadap hak-hak kaum LGBT. Pendekatan seperti itu membuat konsumen merasa mereka punya keterikatan secara visi dengan produk-produk tersebut, dengan begitu, konsumen akan memilih produk yang lebih dekat dengan jati diri mereka. PR Campaign semacam ini sudah sering dilakukan bahkan sejak jaman perang dunia. Uang yang dikeluarkan konsumen lagi-lagi masuk ke kantong petinggi-petinggi perusahaan dari produk tersebut. Apalagi produk-produk seperti Apple dan Nike sering memasang harga selangit yang profitnya ratusan persen dari production dan operational cost mereka.

Hal yang sama juga dilakukan Starbucks, apalagi pemuda di Indonesia sedang melek-meleknya terhadap isu-isu LGBT dunia. Indonesia juga memiliki populasi pemuda yang besar. Ekonomi Indonesia di kota-kota besar juga sedang melonjak dari tahun ke tahun. kebebasan dan kemudahan akan informasi juga membuat pemuda-pemuda Indonesia berpikir progresif. Bisa dilihat apabila anda menggunakan LINE, buka timeline anda dan anda akan menemukan banyaknya essay mengenai isu-isu LGBT. Starbucks tahu tentang hal ini. Starbucks dilihat sebagai brand yang progresif dan liberal, pemuda-pemuda Indonesia yang ingin memiliki image progresif akan melihat Starbucks sebagai produk yang keren dan 'gue banget', sama seperti Apple.

Padahal Starbucks merupakan contoh ganasnya kapitalisme di dunia. Dengan membuka berbagai gerai di tempat-tempat strategis di kota-kota besar, Starbucks secara tidak langsung membunuh bisnis-bisnis kopi kecil di Indonesia. Para pemuda otomatis akan menunjuk Starbucks sebagai tempat hangout mereka karena letaknya yang sangat strategis dan gerai mereka yang ada di mana-mana. Soal harga belakangan, yang penting image sebagai pemuda modern nan liberal nomor satu. Beli Frappucino lima puluh ribu, foto, post di snapchat atau instagram story lengkap dengan nama mereka di cup, selesai, anda adalah pemuda keren yang progresif dan liberal.

Ngopi di Starbucks itu keren. Tetapi sebagai pemuda progresif, mereka seharusnya tahu bahwa harga kopi yang dijual di starbucks sangat jauh dari harga yang dipasang para petani-petani kopi Indonesia. Hal yang sama juga dilaporkan di Peru dan Brazil di mana petani-petani kopi mereka menjual biji kopi dengan harga yang murah ke Starbucks, dan dijual kembali dengan harga yang tinggi. Pemuda progresif seharusnya tahu bahwa praktek seperti ini sangat kapitalis, dan musuh pemuda progresif seharusnya adalah kapitalisme.

Terlepas dari apa yang dilakukan Starbucks dengan PR Campaign-nya, kita hanyalah konsumen semata yang membeli apa yang kita mau dan inginkan. Hanya saja, sebagai konsumen harus cerdas dalam mengetahui lebih lanjut misi-misi dari PR Campaign suatu produk yang ingin kita beli.

Selasa, 23 Mei 2017

Jalu's Coaching Diary: Keep Your Parents Out of The Ground

Mungkin saya salah satu orang yang diberkahi kenikmatan luar biasa. Ibu saya mantan pemain nasional, Ayah saya peraih medali emas PON. Saya memang selalu ada di bawah bayang-bayang kedua orang tua saya. Label "Anak Ratih" atau "Anak Budi" sudah biasa saya dengar. Simpelnya, I'm not as good as my parents.

Akan tetapi, saya sangat bersyukur memiliki dua orangtua yang dihormati dan disegani di dunia baseball-softball. Saya tidak perlu berhadapan dengan orangtua yang sok tahu dan sok jago seperti kawan-kawan saya yang lain.

Dulu, Ayah dan Ibu saya selalu mengantar saya ke Pintu Satu, Senayan. Hampir setiap minggu mereka datang mengantar dan menonton saya berlatih. Setiap pertandingan pun salah satu dari mereka selalu datang. Apa yang mereka lakukan? Diam. Ya, Ayah dan Ibu saya tidak seperti orangtua lain yang menganggap memukul bola dari pitcher itu mudah. Tidak seperti orangtua lain yang merasa dirinya lebih tahu dibanding pelatih yang memimpin tim saya. Tidak seperti orangtua lain yang merasa anaknya harus bermain sebagai pitcher atau shortstop. Tidak seperti orangtua lain yang memaksa anaknya harus masuk ke suatu tim.

Saya sangat bersyukur, walaupun saya kadang iri dengan kawan saya yang selalu dibela mati-matian oleh orangtuanya meskipun mereka bermain sangat buruk. Ayah saya selalu diam ketika saya bermain, seakan beliau tidak peduli anaknya strike-out tiga kali berturut-turut, seakan tidak peduli anaknya tidak bisa menangkap bola mudah, seakan tidak peduli anaknya melakukan hal bodoh di dalam lapangan. Itu hanya kulitnya saja. evaluasi tiga SKS setelah pertandingan hampir selalu ada di perjalanan pulang. Saya tidak pernah menangis di lapangan setelah pertandingan buruk, saya selalu menangis di mobil karena tiga SKS dari Ayah saya. Itu yang membedakan Ayah saya dengan ayah-ayah yang lain.

Meskipun Ayah dan Ibu saya adalah pemain yang luar biasa pada zaman mereka, tidak pernah sekalipun mereka mengintervensi kegiatan di dalam lapangan. Gila memang boleh saya bilang. Level mereka jauh di atas pelatih-pelatih saya dulu. Akan tetapi, mereka selalu tahu tempat dan situasi. Mereka tahu bahwa suatu tim tidak boleh diatur-atur kecuali oleh pelatih tim tersebut. Seburuk apapun pilihan dari pelatih saya, orangtua saya tidak pernah ikut campur kecuali ketika diminta.

Sekarang kita lihat sisi lain yang lebih gelap. Jadi awalnya begini, seorang anak SD tertarik bermain baseball setelah membaca komik Dorabase. Si anak ini meminta orangtuanya untuk mengantarnya ke Pintu Satu. Setelah si anak ini bermain, orangtua ini mulai mengerti bagian kulit terluar dari baseball. Dengan modal pengetahuan seadanya dari melihat si anak SD ini berlatih dan bermain, si orangtua ini mulai berkomentar bagaimana seharusnya ini dan itu di lapangan. Memang orang yang ilmunya masih cetek pasti omongnya paling besar. Kasus terekstremnya adalah si orangtua ini sampai ikut mengatur strategi dan pemilihan pemain dalam tim. Gila memang! Pelatih yang sudah belajar bertahun-tahun, melewati proses latihan dan melatih yang berat dan penuh tantangan bisa disetir oleh orang yang bahkan menjelaskan apa itu Strike dan Ball saja harus susah payah.

Kasus seperti ini tidak hanya satu atau dua. BANYAK!! Bukan maksud menggeneralisir, tetapi hampir semua orang tua yang tidak punya background baseball pasti paling vokal dan omongnya paling besar. SHUT UP! YOU PARENTS KNOW NOTHING! Baseball ini bukan persoalan pride orangtua, melainkan passion si anak! Let your kids play the game! Let them enjoy this beautiful game! Tugas anda hanya mengantar mereka ke lapangan dan biarkan pelatih membina anak anda. Anda juga tidak berhak memaksa anak anda bermain sebagai pitcher padahal anak anda lebih berpotensi di first base. Bermain di outfield juga bukan posisi yang hina, dear parents. Tidak semua anak bisa bermain di shortstop! Anak anda tidak secepat lemparan bola catcher, jangan paksa mereka untuk steal. Bunt bukanlah sesuatu yang hina apabila tim anak anda butuh run atau anak anda kesulitan dengan bola pitcher. Lebih baik walk dibanding pop out di centerfield! Anak anda tidak cocok bermain di batter satu atau empat, anak anda lebih cocok di dugout sambil ngemil. Anak anda bukan A-Rod, anak anda lebih condong ke Stephen Drew.

In terms of baseball knowledge, sebenarnya orangtua bisa belajar lewat textbook. Sayangnya, anda tidak berdiri di batter box, anda tidak mengejar bola di outfield, dan paling penting anda tidak berdiri di coach's box dan memberi kode serta mengatur strategi! Anda bukan yang paling tahu jadi tolong jangan sok tahu! Pelatih lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh tim. Saya tahu anda orang-orang kaya, tapi ketika di lapangan, pelatih lah yang punya kendali atas pertandingan! 

Satu lagi, belajarlah soal perkembangan baseball di Indonesia. Banyak pemain-pemain hebat di Indonesia yang menertawakan anda. Anda harus tahu juga pencapaian pelatih tim anak anda. Anda juga harus sadar bahwa pelatih-pelatih yang anda teriaki punya pengalaman bermain dan melatih yang jauh dari yang anda punya.

Tulisan ini untuk anda wahai orangtua sok tahu. Untuk orangtua yang berpikir untuk mengirim anak anda bermain baseball, jadilah orangtua yang bertanggung jawab dan cerdas. Jadilah orangtua yang sadar bahwa anak anda ingin bersenang-senang tanpa kendali anda.

Maaf kasar. 


Rabu, 26 April 2017

Jalu's Coaching Diary: The First Of Many

My first tournament went well. we ranked third with three wins and two losses in a tournament full of good teams with more experienced players. To simplify things, we have a quite good tournament.

We had a game where we came back from a 5 - 0 to 5 - 6 game. all six runs came in a last inning thanks to some great strike zone discipline and good control by the guys and some key clutch hits to wrapped up the runs. We shook the tournament by scoring three runs against the best team in the tournament and the eventual champion even though they scored nine. Overall, the new guys looked like they'd had some good futures ahead of them and now it's my job to make them more useful for tournaments to come.

Unlike some baseball countries, baseball in Indonesia is just a way to have some fun on the weekend with your friends. We don't take baseball too seriously. Therefore, we only had like two to three tournaments per year, and only five to eight teams compete in those tournament. That's why we can never achieve what Japan and Korea achieved as they had competitions all year round. Competition gave young players experience they need to go to another level of expertise. Seeing pitches is important for new players as their brain hardware haven't got used to seeing things their eyes can't see. Hitting is projecting the motion of the ball, and our eyes could never do that, it's not designed to do so. By seeing more pitches, the brain can make up memories of ball trajectory so the brain knows when and where to hit them. Hitting is more like seeing the future rather than the present as the ball travel so fast, our eyes couldn't catch them.

The process of going to expert from adept is the hardest thing in every aspect of life including baseball. Teaching kids how to throw and catch is easier than teaching them how to do a double play, teaching them double play is easier than teaching them double play in a desperate condition. Teaching them how to act in some conditions is harder than teaching them techniques. Baseball is 80% mental and 20% Technique. Some Coaches in Indonesia only teach their players how to throw, not how to throw in a two out, last inning, tied, final game. Therefore, lots of error came in a more demanding situations. Teaching players to be calm is also a problem because every person deals with their stress differently. As i said in the previous entry, every person is a different. Now i say every person is different and every person deals with their problems differently.

We could never dismiss the human factor in every players, that goes for the coach as well. Every player is a human and every coach is a human too. Every player deals with their stress differently, so does every coach. By adding the human factor to the training, every players can function themselves as humans, not robots. Coaches have to realise that they are human, and they are dealing with another human being. Baseball is a game for human, and humans made errors when they get stressed. That's why coaches have to teach their players how to deal with stresses in every condition and every play. I see lots of good players made bad judgements in a final game when they did well in games before. That's because usually final games are more mentally demanding than pre-final games. That's why mental training is important for players and coaches.


Ordinary players play with their muscles. Good players play with their hearts. Excellent players play with their brain. Combine all three and you'll have an unstoppable players ready to tackle all kinds of obstacles ahead of them.