Minggu, 04 Desember 2016

BUEBBAS!

Kawan saya pernah berkata di akun media sosialnya, "Twitter twitter gua, terserah gua lah!" Saya tidak akan menyebut nama dari pemilik akun karena terlalu banyak kawan saya yang mengutarakan kata-kata seperti di atas, mungkin kawan Anda juga ada yang pernah melontarkan pernyataan di atas? atau Anda sendiri? Jujur, kalo diinget-inget lagi sih kayaknya gua pernah ngetwit gitu, tapi lupa kapan, ya sudahlah.

Konsep bebas itu masih tergolong baru di Indonesia, selama lebih dari 30 tahun Rakyat Indonesia dibungkam, bukan karena ketidakadaan media sosial daring tetapi karena konsep ciduk-menyiduk yang diaplikasikan mantan presiden ke dua, tiga, empat, lima, dan enam kita. Konsep bebas baru dikenal pasca jatuhnya Orde Baru dan munculnya zaman reformasi di mana kebebasan berekspresi seakan-akan tidak dibatasi oleh batas apapun, contohnya bisa terlihat ketika massa berunjuk rasa memprotes kenaikan harga BBM pada tahun 2012, seperti yang dulu kita saksikan di televisi atau mungkin beberapa orang merasakan langsung di jalan bagaimana aparat kepolisian bersusah payah menenangkan dan membubarkan massa yang berunjuk rasa hingga malam hari, padahal jelas dilarang berunjuk rasa hingga melewati pukul 18.00 di tempat terbuka.

Latah konsep bebas bisa dilihat di media-media favorit anda, di tayangan berita TV misalnya, di mana ditayangkan berita-berita yang tidak berkualitas dan memihak sepada suatu kalangan tanpa melihat sisi faktualnya, sebenarnya apabila kita merujuk kepada konsep bebas ya sah-sah saja karena bebas-bebas saja si pemilik media mau menayangkan apa juga, toh dia yang punya, walaupun sebenarnya melanggar kode etik jurnalisme tapi demi kepentingan suatu golongan, apapun dapat dilakukan. Ambil contoh lagi ketika seorang rapper muda dapat dengan seenak bangsat menghina orang lain seprofesinya, sebenernya gua males ngomongin ini sih cuma ya rada ngehe aja tu orang, walaupun sebenarnya sudah bukan hal yan aneh dalam dunia rapper yang namanya dissing tetapi bangsa Indonesia punya nilai-nilai moral dan undang-undang yang berlaku, si rapper muda ini bisa saja dituntut, mungkin kapan-kapan ya.

Free as a bird mungkin sebuah konsep yang masih diraba-raba di Indonesia, mungkin karena banyaknya senapan angin yang beredar di Indonesia, mungkin juga karena sebenarnya bebas bukanlah jati diri bangsa ini. Saya tidak tidak bisa menyalahkan kemunculan media sosial dan naiknya pengguna internet di Indonesia yang tidak dibarengi dengan naiknya tingkat pendidikan dan literasi informasi di Indonesia, sekarang hampir semua orang bisa mengakses media-media daring dan belum tentu si pengakses sebenarnya bertanggung jawab atas konten-kontennya, mungkin paragraf ini terbaca klise tetapi ini lah realita di Indonesia, tidak semua orang punya ide yang jelas akan munculnya konsep bebas, yang terjadi malah semua orang menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka mengerti, sebagai contoh bisa kita lihat Yang Mulia Karin Novilda dan akun instagram beserta vlognya di Youtube, dia bisa saja berkata bahwa Indonesia adalah negara yang bebas tetapi dia sendiri tidak mengerti akan konsep tanggung jawab yang mengikuti konsep bebas tersebut. Bukan saya bilang bahwa konten vlognya nirkualitas tetapi itulah yang sebenarnya, nirkualitas dan nirfaedah.

Realita media di Indonesia sebenarnya sangat menyedihkan, konten-konten yang disediakan semata-mata hanya untuk kepentingan pemilik media tanpa mengedepankan kualitas kontennya itu sendiri, Rakyat Indonesia yang kebanyakan masih bodoh dijadikan konsumen untuk tayangan-tayangan bodoh juga, kalau begini caranya, kapan Bangsa ini mau maju? apabila tayangan yang dijadikan andalan adalah tayangan berbasis konsumerisme dan kebodohan maka yang terjadi adalah Bangsa kita menjadi bangsa yang konsumtif dan bodoh.

Solusinya ada pada kontrol kita terhadap konsumsi tayangan-tayangan yang tersedia, pilih hanya tayangan yang berkualitas dan mencerdaskan bangsa dan diri kita sendiri, sialnya solusi ini hanya bisa diaplikasikan pada bangsa yang sudah cerdas, bangsa yang sudah mengerti cara menyortir hal yang buruk, dan bangsa kita belum bisa mencapai kemewahan itu. Solusi yang lain adalah mendorong pemilik media untuk mengedepankan tayangan dan konten yang berkualitas, saya percaya apabila media kita lebih banyak mengangkat konten-konten sains dan olahraga, maka bangsa kita akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan dan atlet-atlet yang berprestasi dan berguna bagi kemajuan peradaban bangsa dan dunia, kontras dengan keadaan media sekarang yang kontennya melulu tentang politik dan selebriti, bangsa kita akan menjadi bangsa yang mendewakan politisi dan selebriti.

Bebas bukan berarti seenaknya, bebas bukan berarti kita bertanggung jawab pada diri sendiri saja tanpa melihat kebebasan orang lain juga, bebas bukan berarti kita bisa menonjok orang lain dan mengklaim bahwa itu hak kita, bebas bukan berarti kita tidak memiliki aturan, kebebasan ada batasnya, dan kebebasan juga harus dibarengi tanggung jawab, burung sendiri harus memperhitungkan gravitasi dalam geraknya.

klise ih, biarin, heu.

Rabu, 24 Juni 2015

Kebebasan Makan Yang Bertanggung Jawab

Baru-baru ini dunia maya Indonesia diramaikan dengan adanya kampanye "Dog is not food", idenya adalah untuk tidak memakan anjing yang sudah menjadi makanan adat dan tradisional di beberapa daerah di Indonesia. Begitu juga untuk kucing, banyak aktivis di dunia maya dan dunia nyata yang menentang ide bahwa kucing adalah binatang yang boleh dimakan walaupun saya belum pernah dengar adanya kaum pemakan kucing di Indonesia.

Saya sendiri adalah penyayang binatang, penyayang mamalia lucu yang sering dipelihara oleh orang-orang maksudnya. Saya sendiri memelihara kucing di rumah walaupun technically bukan kucing milik saya dan tinggal di rumah yang bukan milik saya melainkan milik paman dan bibi saya. Saya bahkan merasa diri saya lebih menyayangi binatang dibanding manusia. tidak ada air mata yang menetes ketika saya menonton film Schindler's List tetapi saya tidak tega menonton dokumenter tentang kekejaman manusia terhadap binatang ternak yang dirilis oleh suatu lembaga yang mengklaim diri mereka pelindung binatang.

Meskipun saya penyayang binatang, bukan berarti saya vegetarian atau vegan atau apapun yang berbau anti makan daging, jika di sebuah restoran saya disuguhkan caesar salad dan tenderloin steak sudah seratus persen saya akan memilih tenderloin steak ketimbang caesar salad walaupun saya bukan pembenci sayuran dan buah-buahan, tapi saya memilih tenderloin steak karena saya pecinta daging. Meat is love, meat is life, meat is not murder

Akhir-akhir ini saya sering membaca artikel tentang festival memakan anjing dan kucing di Cina Tiongkok, teknis dari festival itu sendiri saya tidak mengerti karena jelas saya bukan panitia ataupun donatur festival tersebut, apalagi saya tinggal di Indonesia. Yang saya tahu, inti dari festival tersebut adalah makan, dan yang dimakan adalah anjing dan kucing, kabarnya malah anjing dan kucing yang akan dimakan di festival tersebut berasal dari anjing dan kucing yang dicuri dari pemiliknya, dari gambar yang saya lihat beberapa anjing malah masih menggunakan kalung.

Dari yang saya baca dan gambar yang saya lihat di dunia maya, proses membunuh anjing dan kucing yang dilakukan di festival tersebut terkesan tidak manusiawi (binatangwi?). Anjing-anjing malah tersebut disimpan di kandang yang kecil dan sempit yang berisi lebih dari satu anjing sehingga mereka berdesak-desakan, lalu anjing malang itu dicelup ke dalam air panas lalu dikuliti hidup-hidup, mereka yang beruntung hanya dipukul dengan tongkat lalu mati dan melewati proses pencelupan den pengulitan dalam keadaan mati, hal yang sama berlaku untuk kucing. 

Tentu cara yang disinggung terkesan tidak manusiawi, dan berlawanan dengan cara yang diajarkan agama, tetapi di dalam agama saya tidak diperbolehkan untuk memakan anjing dan kucing karena berbagai alasan tapi memangnya ada agama di Indonesia yang memperbolehkan memakan anjing dan kucing? Mengapa saya sebut tidak manusiawi? karena pertama, binatang malang tersebut direbus dalam keadaan hidup yang berarti mereka merasakan rasa sakit yang lumayan, saya sebut lumayan karena saya tidak tahu pasti apa yang mereka rasakan. mereka juga dikuliti hidup-hidup yang berarti mereka makin tersiksa, sebagai perbandingan saja, saya sering merasakan perihnya jika saya terpaksa mencabut kulit membandel di daerah sekitar kuku. Yang kedua, mereka dicuri dari pemiliknya, bayangkan anda tinggal di rumah yang nyaman, diberi tempat tidur, diberi makan dan minum, dan dimandikan secara berkala lalu tiba tiba anda diculik dari rumah anda dan ditempatkan di sebuah kotak sempit yang berisi orang-orang seperti anda berdesakan menunggu maut menanti. peristiwa tersebut bisa dikaitkan dengan holocaust yang dilakukan oleh Nazi kepada orang-orang yahudi, dan tahanan politik Nazi.

Tetapi apakah ada bedanya dengan para sapi, ayam, dan babi yang dilahirkan di dalam peternakan bersifat industri? Mereka lahir, tinggal di kandang yang crowded, bau dan kotor, mereka diberi makanan yang dicampur dengan hormon pembesar, jika sudah besar mereka dibunuh atau beberapa digunakan untuk berbagai kepentingan misalnya bertelur secara rutin yang telurnya bahkan infertil, diperah untuk susunya, atau dijadikan bakal induk yang setelah melahirkan akan dibunuh juga. Bukankah suatu ketidakadilan jika kita hanya membela hak-hak kucing dan anjing tetapi tidak membela mereka yang tertindas oleh industri peternakan? bagaimana jika suatu saat aktivis pecinta ayam membuat kampanye "Chicken is not food"? apakah kita juga suatu saat tidak akan bertemu lagi dengan ayam kari Warteg Pak Mamat? atau tidak makan opor ayam di hari lebaran?

Lalu ada kita, manusia, dan kodratnya sebagai pemuncak di rantai makanan. Tuhan memberikan kita akal dan kemampuan yang luar biasa di atas makhluk hidup lain sehingga lewat evolusi ribuan tahun kita dapat memuncaki rantai makanan. Dahulu, nenek moyang kita bertahan hidup di alam dengan cara memakan apapun yang disuguhkan Tuhan di bumi ini, sampai akhirnya kita menemukan cara untuk berternak. Jadi apabila saya tidak memakan apa yang saya bisa makan, apakah itu akan menjadi insult untuk nenek moyang kita yang dahulu bersusah payah mengangkat derajat umat manusia dan memanjat rantai makanan sehingga kita berada di pucuk?

Tetapi kembali lagi kodrat manusia yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Memang manusia ini jenis yang paling aneh, untuk membunuh saja diatur dalam konvensi jenewa. Sebagai pemegang kendali akan bumi sudah seharusnya kita berlaku adil dan bijak dalam berperilaku, baik kepada manusia lain ataupun makhluk lain karena pada dasarnya bumi ini bukan hanya milik manusia tetapi milik makhluk lainnya juga. Di agama saya diajarkan tata cara membunuh hewan untuk dimakan yang baik dan benar, dan sudah seharusnya jika kita ingin memakan seekor hewan ada baiknya kita bunuh dengan cara yang baik dan benar, jangan sampai hewan yang kita makan tersiksa sebelum kita makan, bukankah menyiksa binatang sebelum kita makan akan menjadi beban moral tersendiri untuk kita? ga tau sih, mungkin gua doang.

Saya sendiri pribadi tidak akan memakan anjing dan kucing tetapi berpendapat bahwa boleh saja kita memakan kucing dan anjing asalkan didapat dengan cara yang legal dan diperlakukan secara baik dan manusiawi sebelum diproses menjadi hidangan karena pada dasarnya kita adalah pemuncak rantai makanan dan pemimpin di bumi ini, sebagai pemimpin kita harus berlaku adil dan humanis terhadap semua makhluk hidup.


Minggu, 24 Agustus 2014

50 Hal Yang Tangerang Banget, Lu Anak Tangerang Kalo....

1. Hafal dan mengerti betul jam keluar Pabrik seperti Istem, Panarub, Argo Pantes, dll.

2. Tahan panas, walaupun kadang mengeluh

3. Jogging di Alun-Alun Kota Tangerang (Lapangan Ahmad Yani) kecuali hari Minggu Pagi

4. Belok kiri dari Veteran menuju Bundaran Adipura lalu balik arah di depan Pengadilan dan melanjutkan perjalanan menuju Fly Over

5. Nongkrong di Rotbak 88 samping GOR atau Rotbak 88 Pasar Lama

6. Jus Kode

7. Menganggap perjalanan diatas 5km itu jauh

8. Belum bisa move on dari Wahidin Halim

9. Nongkrong di Roof Top Baso Jono

10. "Geh" "Joh" "Tah" "Yak"

11. Main Bola bersama orang yang anda tidak kenal di Lapangan Ahmad Yani

12. Lebih suka nongkrong di kafe sepanjang pinggir sungai Cisadane dibanding di Mall

13. Tidak mengenal aturan lalu-lintas di daerah Perum

14. Hafal dan mengerti cerita mistis di rumah sakit Sitanala

15. Tidak mengadu argumen dengan supir angkot manapun

16. Hafal spot lubang-lubang di daerah kutabumi

17. Beli seragam sekolah di Barkah

18. Beli alat Elektronik di Toko Sabar

19. Belanja di Toko Chelsea atau Toko Bintang

20. Jalan Laksa instead of Jalan M. Yamin

21. Duduk di Downtown TangCity dan menikmati WiFi gratisan tanpa membeli apapun

22. Hafal gerak-gerik polisi di Jalan Daan Mogot

23. Setidaknya sekali seumur hidup makan di Pondok Lauk

24. Sate H. Ishak

25. Setidaknya pernah mengunjungi Pulau Untung sekali seumur hidup

26. Kecap SH

27. Bertanya-tanya soal status Stadion Benteng

28. Membeli baju untuk tim olahraga atau sepatu futsal KW-sekian di Cikupa, which is 15km dari pusat Kota Tangerang, jauh...

29. Merasa aman walau dikelilingi 3 penjara

30. Futsal gratis di GOR Dimyati, tapi main di lapangan luar

31. Kenal penjaga parkir Pasar Lama

32. Pernah setidaknya sekali seumur hidup melihat pedagang Pasar anyar membereskan dagangan ketika kereta lewat, dan lanjut berdagang ketika kereta sudah berlalu

33. Toko Subur

34. Bioskop Pasar Anyar dan "film-film"nya, masih ada ga tuh?

35. Beli atau sekedar melihat-lihat barang "berguna" sehabis Sholat Jumat di Masjid Al-Azhom

36. Membeli peralatan Olahraga di depan Masjid Agung, Cahaya Sport for life!

37. Chocolatte dan Capuccino Cincau, emang enak ya?

38. Rumah Makan Hj. Kokom dengan Lake Side View-nya

39. Mengenal satu sama lain karena basically Tangerang sempit....

40. Ilham Jayakusuma, Firman Utina, Zainal Arif, dan Maman Bogel!

41. Di sisi lain ada Aliyudin, Jendri Pitoy, dan Isnan Ali!

42. "Searching" di event DBL

43. Perjalanan ke daerah Balaraja, Cikupa, dan Sekitarnya bisa dibilang "Naik Haji"

44. Tau cerita dibalik enaknya Mie Ayam 59 Pengayoman

45. Berlaku juga untuk Baso Mukti Ali

46. Konser Metal di Gor Sangiang

47. Festival Cisadane dan Perahu Naganya

48. Menerjang lampu merah depan Banjar Wijaya, please stop doing this....

49. Gedung Happy

50. Apa hal yang Tangerang banget menurut lu??